Budak Miskin Ini Diberi Dua Ikan dan Cincin Berlian Dari Orang Asing, Peliknya Dia Menolakknya

Join Telegram Taman Ilmu Di Bawah

Telegram

Namaku Caca, aku berusia 9 tahun ini, aku memiliki seorang adik laki-laki yang baru berusia 4 tahun. Ibuku mengidap penya kit se rius sehingga ayahku harus merawatnya dirumah.

Join Group Kami Sokong Ustaz Ebit Lew
Kami Sokong Ustaz Ebit Lew

Selain mengurus ibu, ayahku bersusah payah bekerja untuk menyara kami berdua ditambah lagi kos rumah sa kit yang tinggi.

Setiap pagi, aku harus bangun dan menyiapkan makan pagi, lalu membangunkan adik laki-lakiku. Setelah itu kami makan pagi dan mengendong adikku untuk berangkat ke sekolah kerana tidak mungkin lah mening galkan si adik sendirian dirumah.

Guru disekolah tahu akan keadaan keluargaku dan mengizinkan aku membawa adikku ke kelas. Kadang-kala, mereka suka menyumbang peralatan sekolah untukku.

Walau adikku masih kecil, ia mengerti bahwa ia tidak boleh menganggu saat pelajaran dimulai. Ia akan menunggu dengan diam sampai aku selesai sekolah.

Kehidupan kami memang tidak mudah, kami pun mengembangkan kebiasaan hemat. Aku sudah mengerti caara menjahit pakaian. Aku akan menggun ting bajuku dan menjahitnya agar adikku dapat memakainya. Aku terbiasa memegang semuanya dirumah.

Mungkin kerana itu juga, ayahku tidak khawatir dengan keadaan di rumah. Ayahku sangat fokus untuk merawat ibuku.

Namun biayanya rumah sa kit semakin hari semakin banyak. Aku sering bersikap optimis untuk menghibur kedua orang tuaku, berharap mereka tetap percaya diri.

Suatu hari, ayahku ulang tahun. Aku memutuskan untuk memasak makanan enak untuknya. Aku kasihan melihatnya harus setiap hari bolak balik dari tempat kerjanya ke rumah sa kit.

Aku pun membawa adikku ke pasar dan menggunakan duit yang sedikit untuk membeli bahan masakku nanti.

Banyak sekali orang yang berjualan dipasar. Disini, kamu boleh menemukan semua jenis sayur-sayuran, buah-buahan dan tentu saja daging. Tapi ketika tanya harganya, aku hanya boleh menundukkan kepala. Duit ku yang sedikit ini tidak boleh membeli apa-apa.

Pandanganku teralih ke sebuah gerai yang banyak daun terkelupas dan jatuh dilantai. Aku pun berjalan ke gerai tersebut dan mulai memungut daun-daun tersebut. Adikku juga membantu mengumpulnya dengan tangan mungilnya.

Tapi, sang penjual melihat kami dan datang marah-marah, “Hei pengemis kecil, sayur ini emang boleh buat kalian ambil? Ini buat arnabku bukan buat kalian. Kalau ambil lagi akan ku potong tangan kalian.”

Adikku langsung menangis karena takut, aku juga ta kut dan segera membawa adikku pergi.

“Nak, sini.” kata pemilik gerai sebelah. Aku menoleh dan melihat seorang pakcik tua menjual ikan. “Orang tua kalian dimana? kenapa anak kecil datang ke pasar sendirian?” tanyanya lagi.

“Ibuku sa kit, sedangkan ayahku sedang merawat ibuku. Hari ini ulangtahun ayahku, aku ingin memasaknya sesuatu, tapi aku tidak dapat beli apa-apa” kataku masih menangis.

Pakcik itu menghembuskan nafas dan berkata, “Kalian anak yang baik. Ini, pakcik bagi dua ekor ikan, bawa pulang ke rumah untuk dimakan yah.”

Pakcik yang baik itu memilih dua ikan dan memasukkannya ke dalam plastik. Awalnya aku ingin menolak, namun adikku merengek ingin makan ikan.

Aku pun menerimanya. Aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih lalu bersiap-siap pulang ke rumah.

Ketika aku sampai ke rumah, ayah juga sudah ada di rumah. Ia sangat senang melihat aku membawa pulang dua ikan.

Ayah pun mulai membersihkan ikan tersebut, tiba-tiba, sebuah beda jatuh ke lantai. Ayah pun memungutnya. Ekspresi wajahnya berubah senang ketika ia menemukan sebuah cincin berlian.

“Ya ampun, kalian beli ikan ini dimana? Lihat cincin berlian ini, boleh dijual berjuta-juta. Ibumu boleh selamat!” soraknya gembira.

Aku segera menggeleng-gelengkan kepala, aku pun menceritakan pengalamanku di pasar tadi, “Ayah, cincin berlian ini pasti punya pakcik tadi. Kita harus mengembalikannya kepadanya.”

Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum, “Kamu benar nak, bukan barang milik kita tidak boleh kita ambil. Yaudah, kamu pulangkan, ayah masak ikan ya.”

Aku pun berlari ke gerai paman tersebut dan mengembalikannya. “Patutlah dari tadi dicari tak jumpa. Rupanya dimakan ikan ya! Kamu anak yang baik, terima kasih ya!” kata pakcik.

Aku pun menceritakan kepada pakcik tentang percakapanku dengan ayah ketika menemukan berlian tadi.

Pakcik pun mendengarkannya dengan serius, pada akhirnya ia berkata, “Aku ingin mengunjungi rumahmu. Boleh tak?” Aku pun mengangguk dan membawanya pulang ke rumah.

Ketika sampai di rumahku dan melihat keadaan di dalamnya, ia tampak terharu dan berkata, “Cincin ini adalah cincin pernikahanku.

Lupakan harganya, cincin ini sangat berarti untukku. Tapi, kalian sama sekali tidak berniat apa-apa ketika melihat cincin ini. Aku sangat salut. Untuk menunjukkan rasa terima kasihku, aku beri kalian 50 juta ya.”

Ketika ayahku mulai menolak, pakcik itu lanjut berkata, “Aku ingin memperluas gerai dipasar. Tunggu Caca sudah agak besar sedikit, ia boleh datang bantu-bantu di pasar.

Anggap aja 50 juta ini uang penghasilan Caca nanti. Bagaimana? Lagi pun kalian benar-benar perlukan duit ini untuk menyelamatkan ibu Caca.”

Kami pun menunduk dan mengucapkan terima kasih kepada paman. Sangat terharunya, ayah juga berlinang air mata.

Tiba-tiba, adikku berteriak, “Aduh, lapar. Mau makan!”

Satu kalimat ini bikin kami semua tertawa.

“Orang yang paling bahagia adalah orang yang melupakan keburukan orang lain terhadap dirinya, dan melupakan kebaikan dirinya terhadap orang lain…”

Jangan lupa untuk SHARE artikel untuk mengingatkan teman dan keluargamu untuk selalu berbuat baik!

Sumber: cerpen

Add Comment